DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESI KE 71 TH. JAYA SELALU !!!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Kesehatan Penis: Identifikasi dan Pencegahan Masalah

Sabtu, 01 Oktober 2011
Penis (yang berasal dari kata phallus) berarti alat kelamin jantan. Penis merupakan organ eksternal kerena berada di luar ruang tubuh. Kata "penis" tidaklah tabu bagi kalangan ilmuan ataupun oknum kesehatan dan kedokteran, jadi penggunaan kata "penis" dalam artikel kali ini ditujukan untuk membicarakan sesuatu yang berada dalam konteks ilmiah.

Kesehatan penis amat penting bagi kaum pria untuk menunjang berbagai fungsi penis. Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi) sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Dengan kata lain, penis yang fisiologis (sehat) dapat berguna sebagai saluran pembuangan "sampah" dan juga sebagai organ seksual (proses ereksi, ejakulasi, dan reproduksi termasuk di dalamnya).

Berbagai masalah dapat terjadi pada penis yang dapat berdampak pada terganggunya fungsi penis. Oleh karena itu, amatlah penting untuk mengetahui tanda dan gejala masalah pada penis, serta beberapa upaya untuk menjaga kesehatan penis.

Apa yang Mempengaruhi Kesehatan Penis?
Berbagai faktor dapat mempengaruhi kesehatan penis, di antaranya:
  • Seks yang tidak terproteksi: seseorang dapat saja tertular berbagai penyakit menular seksual jika ia sering berhubungan seksual secara tidak aman.
  • Seks agresif/akrobatik atau masturbasi: Bila penis seorang pria terbengkok secara tiba-tiba ketika sedang ereksi akibat terlalu agresif, maka meningkatkan risiko fraktur penis. 
  • Penyakit jantung dan diabetes: Terhambatnya aliran darah akibat diabetes dan atelosklerosis dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
  • Sedang menjalani pengobatan tertentu: Menjalani berbagai medikasi dapat berpengaruh pada kesehatan penis. Sebagai contoh penggunaan antibiotik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi terhadap kuman tertentu yang berdampak pada peningkatan kejadian infeksi. 
  • Seusai menjalani operasi tertentu: Sebagai contoh, seorang pria yang baru saja menjalani pengangkatan kelenjar prostat dapat mengalami inkontinensia (ngompol) dan disfungsi ereksi.
  • Merokok: Merokok dapat menyebabkan disfungsi ereksi hingga dua kali lebih besar daripada tidak merokok. 
  • Pengaruh hormonal: Ketidakseimbangan hormon seperti defisiensi testosteron atau terlalu banyak hormon prolaktin, dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi.
  • Masalah psikologis: Depresi dapat menyebabkan kehilangan libido (gairah seksual). Apabila sebelumnya seorang pria pernah mengalami masalah pada ereksi, mungkin saja ia berpikir masalahnya akan terjadi lagi dan ini justri mengakibatkan kecemasan bahkan depresi. Hingga pada akhirnya, hal ini dapat menyebabkan impotensi.
  • Kondisi neurologis: Stroke, trauma tulang belakang, sklerosis multipel, dan demensia dapat mempengaruhi penyaluran impuls saraf dari otak ke penis sehingga menyebabkan disfungsi ereksi. 
  • Proses penuaan: Kadar testosteron pria secara normal menurun seiring usia. Hal ini dapat menurunkan ketertarikan seksual pada pria (berkurangnya hasrat seksual), membuat pria memerlukan waktu yang lama untuk mencapai dan mempertahankan ereksi, serta membuat ejakulasi kurang bertenaga dan memerlukan waktu yang lama untuk mencapai ereksi berikutnya pasca ejakulasi. 
  • Tindikan pada "badan" penis: Tindik dapat menyebabkan infeksi kulit penis dan menyebabkan ereksi menjadi lama terjadi (karena ada penghalangan aliran darah).
Apa Saja Masalah yang Terjadi Pada Penis?

Beberapa kondisi/masalah yang dapat terjadi pada penis ialah:
  • Masalah ereksi dan ejakulasi: Terdiri dari disfungsi ereksi (ketidakmampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi untuk keperluan seks), priapism (ereksi yang persisten dan nyeri yang tidak terjadi karena stimulasi seksual), anejakulasi (tidak mampu berejakulasi secara normal--ejakulasi prematur, ejakulasi tertunda, ejakulasi nyeri, dan ejakulasi retrograde, yaitu ketika air mani masuk ke kandung kemih bukan keluar melalui penis ketika orgasme).
  • Infeksi menular seksual: Berbagai infeksi menular seksual dapat mempengaruhi penis, termasuk gonore, klamidia, sifilis dan herpes genitalis. Tanda dan gejala mungkin termasuk nyeri ketika buang air kecil, sekret pada penis, dan luka atau lecet pada penis atau sekitarnya.
  • Masalah pada foreskin (kulup): Kondisi yang disebut phimosis terjadi ketika kulup pada seorang pria yang tidak sunat tidak dapat ditarik dari kepala penis. Paraphimosis terjadi ketika kulup tidak dapat kembali ke posisi normal setelah berhasil ditarik. 
  • Penyakit atau kondisi lain: Infeksi jamur dapat menyebabkan ruam kemerahan dan bercak putih pada penis. Inflamasi (peradangan) pada kepala penis yang disebut balanitis dapat menyebabkan nyeri dan keluarnya cairan busuk dari penis. Peyronie's Disease, suatu kondisi kronis yang mencakup perkembangan jaringan parut di bagian dalam penis dapat menyebabkan nyeri ketika ereksi. Kanker penis, suatu kondisi yang jarang terjadi, memiliki gejala awal lesi pada kulup, lalu kepala penis, sampai berkembang lebih besar diiringi cairan bernanah. 
Apa Tanda dan Gejala dari Berbagai Masalah Pada Penis?

Sebaiknya segera konsul ke dokter apabila anda memiliki gejala sebagai berikut:
  • Memar pada penis anda
  • Masalah berejakulasi (apapun)
  • Kencing atau ejakulasi berdarah
  • Benjol, bengkak, ruam, dan luka pada penis
  • Rasa nyeri ketika ereksi yang mengganggu aktivitas seksual
  • Sensasi terbakar ketika buang air kecil
  • Keluar cairan berbau dan atau kental dari penis
  • Nyeri yang terjadi pasca trauma pada penis.
Apa yang Seharusnya Dilakukan Untuk Menjaga Kesehatan Penis?

Semua pria dapat menyusun langkah untuk menjaga kesehatan penis, seperti:
  • Berprilaku seks yang aman: Gunakan pengaman untuk berhubungan dengan pasangan apabila pasangan menderita infeksi menular seksual.
  • Vaksin: Vaksin HPV untuk pria di bawah 26 tahun (baru dicanangkan), setidaknyab dapat sedikit mencegah terjadinya kanker serviks pada pasangan seorang pria.
  • Aktivitas fisik: Aktivitas fisik yang teratur dan tidak berlebihan dapat membantu mengurangi risiko disfungsi ereksi.
  • Berperilaku bersih: Bila seorang pria tidak sunat (sirkumsisi), mencuci kulup dengan air dan sabun secara rutin sangat disarankan. 
  • Kenali pengobatan yang sedang dijalani: Selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai pengobatan suatu penyakit yang sedang diderita untuk menghindari kemungkinan efek samping yang mungkin berdampak pada organ seksual. 
  • Hindari depresi: Pelajari bagaimana seseorang bisa terus hidup tenang tanpa depresi, mungkin dengan mendalami agama, enjoy dalam pekerjaan, bersyukur terhadap apa yang dimiliki, dan sebagainya.
  • Berhenti/kurangi merokok: Apabila seorang pria sudah menjalani semua langkah yang ada, tetapi tetap merokok, peluang pria itu untuk menderita masalah pada penis masih amat besar. 
  • Seks secara teratur: Aktivitas seksual yang teratur atau berfrekuensi dapat membantu menjaga fungsi ereksi.
Ingat bahwa semua masalah pada penis dapat dicegah. Oleh karena itu pelajarilah langkah-langkah pencegahannya dengan para pakar seksologi ataupun dokter andrologi jika anda merasa artikel-artikel yang anda baca belum memuaskan. Lakukanlah diskusi, konsultasi, dan pemeriksaan berkala untuk mengetahui adakah masalah pada penis agar dapat sesegera mungkin dicegah, didiagnosis, atau bahkan ditatalaksana. 
 
http://terselubungsekali.blogspot.com/2011/04/kesehatan-penis-identifikasi-dan.html

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...