DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESI KE 71 TH. JAYA SELALU !!!

Kamis, 27 Oktober 2011

Stres Bisa Mempengaruhi Jenis Kelamin Jabang Bayi

Kamis, 27 Oktober 2011


Stres pada pekerjaan dan urusan rumah tangga yang dirasakan wanita bisa mempengaruhi jenis kelamin bayi mereka. Wanita dengan tingkat stres tinggi cenderung melahirkan bayi perempuan.

Hal di atas terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oxford, Inggris dan para peneliti di Amerika Serikat. Dalam penelitian yang dilakukan Universitas Oxford ada 338 wanita menjadi responden.

Ratusan wanita yang tengah berusaha untuk hamil itu diminta menulis diary. Dalam diary tersebut mereka menuliskan tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupan mereka mulai dari seks, pekerjaan sama urusan rumah tangga. Responden juga diminta mengisi kuisioner tentang stres yang mereka alami. Saat diteliti, tingkat hormon stres, kortisol, juga diukur, sebelum para wanita tersebut hamil.

Dalam penelitian Oxford University itu terungkap, 58 bayi laki-laki dan 72 bayi perempuan lahir. Di Inggris, normalnya lahir 105 bayi laki-laki dan 100 bayi perempuan setiap tahunnya.

Sementara konferensi tahunan American Society for Reproductive Medicine membeberkan 50% wanita yang tingkat hormon stresnya tinggi sebelum kehamilan, kemungkinan melahirkan anak perempuannya juga besar. Sedangkan dari koferensi di Orlando, Florida dilaporkan wanita yang paling stres, 75% kecil kemungkinannya melahirkan anak laki-laki. Level hormon kortisol tersebut naik ketika seseorang mengalami stres cukup lama karena tekanan di tempat kerja dan hubungan dengan pasangan yang buruk.

"Masalah keuangan juga ikut berperan," ujar peneliti dari Universitas Oxford, Dr Cecilia Pyper.

Sayangnya dari berbagai penelitian tersebut belum diketahui secara pasti kenapa tingginya tingkat hormon stres menurunkan kemungkinan seorang wanita melahirkan anak laki-laki. Hanya saja para peneliti menduga tingginya level hormon stres itu membuat sperma untuk bayi laki-laki (kromosom Y) sulit untuk membuahi sel telur di rahim.

Dr Pyper dan para peneliti lainnya mengatakan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kenapa hal di atas terjadi. Kalau memang hasil temuan mereka sudah benar-benar pasti, peneliti menyarankan para ibu untuk lebih rileks atau setidaknya belajar merelaksasi diri.

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...