DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESI KE 71 TH. JAYA SELALU !!!
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Misteri Kematian Para Pelukis Nyi Roro Kidul

Selasa, 11 Oktober 2011
Percaya atau tidak. Lukisan tentang Ratu Kidul pernah dikeramatkan oleh penghuni sebuah lokalisasi pekerja seks komersial, entah untuk pelaris atau supaya orang segan. Lukisan itu, karya Wara Anindyah saat di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia Yogyakarta, diketahui raib waktu keluarganya di Magelang pindah rumah, tetapi si pelukis tak ambil pusing.

“Cerita tentang lukisan saya yang sampai di lokalisasi itu cuma menurut kabar dari teman-teman. Benar-tidaknya, saya tidak mengeceknya,” tutur Wara (41). Lebih dari 20 tahun kemudian Wara melukis lagi Ratu Kidul. Akan tetapi, dengan gaya melukis yang dipilihnya, dalam ”My Name is Ratu Kidul”, sosok Ratu Kidul digambarkan seperti emak-emak berpipi tembam dan bergincu, berpayung, serta tampak repot dengan tas belanja. Kesannya, Ratu Kidul itu lucu.

”Ah, ini sekadar reka-rekaan saja, kayak di film-film Indonesia jenis film mistik dan horor itu, lho. Ratu Kidul menyamar jadi manusia. Jalan-jalan ke mal, belanja macem-macem. Lalu pulang lagi ke kerajaannya di kedalaman Laut Selatan,” ungkap Wara tentang karyanya yang dipajang dalam pameran seni rupa ”Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita” di Balai Soedjatmoko, Solo, 24-30 April 2010.

Ide Wara terasa orisinal. Ia melawan stereotip yang dipengaruhi budaya patriarki—sejak Panembahan Senopati membangun Kerajaan Mataram (1587), yaitu imaji tentang Ratu Kidul yang punya kecantikan sempurna. Sosok mitos yang hidup di masyarakat Jawa itu umumnya dipersepsikan negatif walau faktanya tidak begitu.

Nasib pelukisnya

Selama ini, banyak kisah tentang lukisan Ratu Kidul, sebanyak bumbu yang menyertai, entah datang dari senimannya atau makelarnya. Entah demi popularitas atau untuk mendongkrak harga. Bukan tidak mungkin karena, sebagai sumber inspirasi, Ratu Kidul berasal dari dunia gaib. Mitosnya, sosok itu bisa membuat tulah bagi yang bersikap sembarangan. Nasib pelukisnya sering dikisahkan tragis.

Semisal, lukisan Ratu Kidul oleh Basuki Abdullah yang dikeramatkan di sebuah kamar di Hotel Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Beberapa kali ia memang melukis dengan subyek yang sama. Terakhir, sebelum maestro pelukis naturalis itu terbunuh di rumahnya di Jakarta, ia dikabarkan datang ke Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Pelukis asal Solo, Didik Suardi, juga pernah melukis Ratu Kidul. Namun, sepekan setelah lukisan itu selesai, Didik meninggal dunia (2001). Suhardjo (1941-1998), juga pelukis Solo, bernasib sama. Dalam keadaan sakit-sakitan ia menyelesaikan lukisan Ratu Kidul, tetapi tak selang lama ia pun menutup mata.

Untungnya, perupa sekarang tak punya sindrom atau takut ”kualat” terhadap sosok yang disakralkan itu. Namun, Ratu Kidul tetap memberi inspirasi untuk divisualkan. Ada yang melakukan pendekatan rasional, ada yang termotivasi lewat dunia mistik, ada pula yang menghayatinya sebagai bagian dari spiritualisme.

Di tengah kontroversi tentang fenomena Ratu Kidul, pameran seni rupa ”Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita” terasa istimewa. Pameran yang diikuti 18 perupa dari Solo dan Yogyakarta itu memperlihatkan sejumlah visi dan tafsir seniman mandiri; dan bisa jadi ekspresi dari bawah sadar mereka. Karya-karya itu memperluas cakrawala tentang dunia mitos (Ratu Kidul), dengan konsekuensi di luar batasan estetika lumrah.

Lucia Hartini (51), pelukis surealis yang lebih dari lima tahun vakum tidak melukis, misalnya, merasa ”terpanggil” dan antusias untuk ikut. Sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir ia mengaku intim dengan fenomena itu. Konon, ada beberapa peristiwa ”ajaib” yang menyertai proses karyanya. Hasilnya, Ratu Kidul adalah sosok perempuan muda tengah melayang berbalut busana tipis warna hijau, dalam pusaran rambut panjang dan latar gelombang laut biru serta susunan karang yang tercipta dari arsiran lembut dan rinci—gaya khas Hartini.

Sensual, horor

Itu berbeda dengan Almarhum Suhardjo, Herri Sudjarwanto, Sumantri, Totok Buchori, Ki Gedhe Solo, juga sebuah lukisan anonim koleksi Wilono Edy Kusumo, semua dalam gaya naturalis yang cenderung memperkuat imaji orang tentang Ratu Kidul selama ini. Herri menyuguhkan perempuan cantik bermahkota; terkesan horor karena ada penyu muncul dari kakinya, diapit dua ekor ular besar bermata merah.

Kengerian berbeda ditampilkan Agus Merapi yang melukiskan kepala Ratu Kidul menyatu dengan perbukitan karang yang keropos. Rambutnya bergelung kembang melati, bibirnya merah darah. Uniknya, sang ratu berkalungkan telepon seluler. ”Itu simbolik, saking banyak orang sekarang yang mau kontak dengan Ratu Kidul dengan pamrih masing-masing,” papar Agus.

”Nyi Ratu Kidul” di mata Sumantri adalah sosok perempuan cantik, sensual, berambut panjang dengan dada membusung. ”Pancaran matanya binal dan tubuhnya menyiratkan berahi yang tak terhindari,” kata Sumantri. Visi serupa terlihat pada karya Ki Gedhe Solo, ”Transendental”. Anehnya, pria yang berprofesi sebagai penyembuh alternatif ini memilih Aria Giovanni, seorang bintang porno asal AS, sebagai model karena dianggap mewakili imaji tentang Ratu Kidul. ”Saya memilihnya setelah menyaksikan ribuan file wanita cantik,” katanya. Sebaliknya, Totok Buchori mencitrakan Ratu Kidul sebagai wajah perempuan keraton yang teduh, muncul dari balik jendela. Sementara pada ”Aku Datang” karya VA Sudiro (71)—yang melukiskan sepasang pria-wanita berbusana Jawa menghadap pantai di bawah langit lembayung—kita menangkap impresi surealisme Kejawen.

Mitos Ratu Kidul ternyata bisa ditafsirkan secara bebas. Dyah Yulianti mengidentikkan Ratu Kidul sebagai Ibu dan sumber kehidupan. ”The Realm of Spirit” terasa mengejutkan; gaya melukis yang ekspresionistik dengan menampilkan sosok-sosok perempuan di tengah gebyuran cat biru dan putih. Tafsir bebas serupa kita dapatkan pada Teddy D, ”Menyapa Bintang Selatan”: seorang anak menjumput sebuah bintang di tengah tebaran ”bulan-bulan” di langit.

Adapun karya instalasi Ivan Sagito, ”Irasionalitas Kolektif”; jajaran 11 gelung rambut dari bahan perunggu, menunjukkan mitos di masyarakat adalah hasil pikiran irasional bersama. Adapun Nasirun menawarkan kepada kita ”wajah” Ratu Kidul lewat 13 panil kecil dengan memanfaatkan bingkai kayu jati yang keropos. Sebuah karya eksperimental yang terasa subtil tentang subyek yang kontroversial itu.

Lukisan ”Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun” adalah tafsir Djoko Pekik (73) bahwa sikap menghamba secara berlebihan kawula alit terhadap raja selama ini sengaja dibangun melalui mitos perkawinan raja Jawa dan Ratu Kidul. Itu tak lain tipu muslihat untuk mengukuhkan wibawa dan kekuasaan raja. Lucunya, dalam lukisan agak karikatural ini, yang jadi raja adalah Pekik sendiri.

0 comments

Rabu, 31 Agustus 2011

Inilah Alasannya Mengapa Laut Selatan Sering Menelan Korban

Rabu, 31 Agustus 2011


 
 
Sudah tak terhitung berapa banyak korban berjatuhan di sana. Legenda menyebut, itu karena ulah dendam Ratu Penguasa Laut Selatan. Tetapi penjelasan ilmiahnya bicara lain.
Kebanyakan korban adalah wisatawan domestik berusia muda, sekitar 15 – 28 tahun. Mereka berlibur ke Pantai Laut Selatan untuk menikmati keindahan panorama bentang alam pantai, sekaligus merasakan sensasi deburan ombak yang menggelegar karena saking besarnya. Mendadak sontak segala keceriaan musnah. Yang tertinggal hanya kepedihan akibat jatuhnya korban jiwa karena tergulung ombak dan terseret arus Pantai Laut Selatan yang terkenal ganas dan tidak terduga.
Lantas muncul sejumlah pertanyaan, apa penyebab utama terjadinya musibah itu? Siapa yang harus bertanggung jawab? Apa yang mesti dilakukan agar hal serupa tidak terulang? Bagaimanapun, evaluasi atas peristiwa itu dan tindak lanjutnya jangan sampai menjadi kontraproduktif, khususnya bagi dunia pariwisata, dan mengurangi kecintaan terhadap pantai dan bahari. Meski dengan data minim, pihak berwenang telah mencoba menjelaskan, ada tiga faktor penyebab terjadinya musibah itu. Wisatawan kurang disiplin mematuhi rambu-rambu larangan berenang yang dipasang oleh petugas. Kurangnya jumlah petugas penjaga pantai. Minimnya peralatan dan perlengkapan untuk mengawasi pantai.
Ketiga biang keladi itu bermuara kepada kesalahan manusia (human error). Ya, wisatawan, ya, petugas. Sedangkan penyebab alamiahnya belum terungkap.

Diambil Nyi Loro Kidul

Perihal musibah itu, penduduk setempat mempunyai jawaban sederhana, yakni para korban dipilih oleh Nyi Loro Kidul sebagai tumbal Laut Selatan. Menurut kepercayaan mereka, para korban mungkin keturunan selir Prabu Siliwangi yang akan dijadikan budak atau balatentara Ratu Laut Selatan. Itu sebabnya korban biasanya masih muda belia. Boleh percaya boleh tidak. Namun, legenda Penguasa Laut Selatan itu hidup secara turun-temurun di sanubari masyarakat Pulau Jawa, khususnya kaum nelayan dan penduduk sepanjang pantai selatan Pulau Jawa (di tengah masyarakat itu terdapat banyak versi yang berkaitan dengan legenda Penguasa Laut Selatan – Red). Menurut legenda masyarakat pesisir selatan Jawa Barat, Nyi Loro Kidul adalah penjelmaan dari Putri Kadita, salah satu putri tercantik Prabu Siliwangi.
Syahdan pada masa Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran, ia memiliki seorang permaisuri cantik dan sejumlah selir. Suatu ketika sang permaisuri melahirkan anak perempuan cantik pula, bahkan melebihi kecantikan ibundanya. Ia dinamai Putri Kadita, putri nan cantik jelita. Kebaikan hati dan kecantikan Putri Kadita menimbulkan rasa iri para selir yang takut tersisih dari hadapan Prabu Siliwangi. Mereka bersekongkol menghancurkan kehidupan Putri Kadita dan ibunya. Keduanya diguna-guna hingga menderita sakit kulit yang sangat parah di sekujur tubuh. Di bawah pengaruh sihir para selir, Prabu Siliwangi pun mengusir keduanya dari keraton karena dikhawatirkan mereka akan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan.
Dalam kondisi mengenaskan, Putri Kadita dan ibunya pergi tanpa tujuan yang jelas. Sang permaisuri tewas dalam pengembaraan, sedangkan Putri Kadita terus berjalan ke selatan sampai akhirnya tiba di sebuah bukit terjal di Pantai Karanghawu dengan deburan ombak dahsyat dan pemandangan alam yang indah. Karena amat kelelahan, Putri Kadita tertidur pulas. Dalam tidur ia bermimpi bertemu dengan orang suci yang menasihati agar sang putri menyucikan diri dengan melompat ke laut untuk mendapatkan kesembuhan, mengembalikan kecantikannya, sekaligus beroleh kekuatan supranatural untuk membalas penderitaan yang dia alami.
Begitu terbangun, tanpa ragu Putri Kadita melompat dari tebing curam ke tengah gulungan ombak, dan tenggelam ke dasar Laut Selatan. Mimpinya pun menjadi kenyataan. Selain sembuh dan kembali cantik, ia juga beroleh kekuatan supranatural serta keabadian. Namun, sang putri harus tetap bersemayam di Laut Selatan. Sejak itu ia menjelma menjadi Nyi Loro Kidul (loro = derita, kidul = selatan), sang Ratu Penguasa Laut Selatan. Konon banyak nelayan yang secara tidak terduga (bahasa Sunda: kawenehan) melihat sosok putri cantik jelita yang tiba-tiba muncul dari balik gulungan ombak. Dengan kekuatan supranaturalnya Nyi Loro Kidul acap membalas dendam atas penderitaan yang pernah dia alami dengan meminta korban, khususnya keturunan para selir Prabu Siliwangi yang pernah menyakitinya. Benarkah demikian? Entahlah.
Untuk meredam kemarahan Nyi Loro Kidul, setiap 6 April nelayan Pelabuhanratu melakukan Upacara Laut berupa persembahan kepala kerbau dan sesaji lain. Tujuannya, agar mendapat keselamatan, perlindungan, dan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Sebagai upaya melestarikan legenda itu, Samudera Beach Hotel di Pelabuhanratu pun menyediakan kamar khusus bernomor 308 sebagai tempat peristirahatan sang Ratu.

Gabungan gelombang

Sudut pandang ilmiahnya tentu saja tidak seperti cerita di atas. Bila disimak, kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa lebih banyak terjadi di pantai landai berpasir dibandingkan dengan pantai terjal berbatu. Ini dapat dipahami mengingat wisatawan yang berenang umumnya terkonsentrasi di kawasan pantai landai berpasir. Sedangkan mereka yang berkunjung di pantai terjal berbatu biasanya tidak berani berenang, hanya bersantai ria sambil menikmati panorama pantai dari ketinggian. Mengapa justru pantai landai berpasir yang sering meminta korban jiwa? Dengan analisis melalui pendekatan ilmu kebumian (geologi) dapat ditafsirkan, penyebab utama kecelakaan itu adalah kombinasi antara gulungan ombak dan seretan arus. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu karakter ombak, konfigurasi dasar laut, dan mekanisme interaksi kedua faktor itu.
Karakter ombak laut (wave) di pesisir selatan Pulau Jawa, mulai dari pesisir Blambangan di Jawa Timur hingga Ujung Kulon di Propinsi Banten, umumnya berenergi tinggi dengan ombak besar. Ini karena pantai berbatasan langsung dengan laut lepas. Berdasarkan teori, ada tiga faktor pemicu terjadinya ombak, yaitu arus pasang-surut (swell), angin pantai (local wind), dan pergeseran (turun-naik) massa batuan di dasar samudera. Di pantai selatan Pulau Jawa, kombinasi antara gelombang pasang surut dan angin lokal yang bertiup kencang, khususnya saat musim Barat, akan menimbulkan ombak besar. Di tempat-tempat tertentu, penggabungan (interference) antara gelombang swell dengan gelombang angin lokal – misalnya di Cimaja, Pelabuhanratu, atau di Karangbolong, Surade – dapat terbentuk ombak setinggi 2 – 3 m. Jenis ombak lain yang sangat berbahaya di Pantai Selatan adalah gelombang tsunami. Gelombang ini dipicu oleh pergeseran naik-turunnya massa batuan di dasar samudera. Interaksi antara ketiga jenis gelombang (swell, gelombang angin lokal, dan tsunami) itu diyakini dapat menghasilkan gelombang dahsyat yang tiba-tiba datang menyapu pantai.
Bentuk morfologi dasar laut di sejumlah lokasi Pantai Selatan juga sangat memungkinkan terjadinya hempasan gelombang dahsyat ke pantai yang sekaligus memicu terjadinya arus seretan. Sebagai pantai yang mengalami pengangkatan (uplifted shoreline) dengan proses abrasi cukup kuat, profil pantai selatan umumnya memiliki zone pecah gelombang (breaker zone) dekat garis pantai. Akibatnya, zone paparan (surf zone) menjadi sempit. Bila terjadi interferensi gelombang, maka atenuasi ombak akan terjadi sehingga membentuk gelombang besar. Karena daerah paparannya sempit, meski gelombang akan pecah di zone pecah gelombang, hempasan ombaknya masih dapat menyapu pantai dengan energi cukup kuat.
Sistem arus di pantai dipicu oleh hadirnya arus di lepas pantai (coastal current) sebagai akibat sirkulasi air laut global. Dalam pergerakannya arus lepas pantai mengalami perubahan arah (deviasi) menjadi arus sejajar pantai (longshore current) akibat adanya semenanjung dan teluk. Arus balik (rip current) menuju laut sering muncul di teluk akibat arus sejajar pantai yang berlawanan. Kekuatan arus balik ini akan bertambah bila dasar laut memiliki jaringan parit dasar laut (runnel atau trough). Jaringan parit merupakan saluran tempat kembalinya sejumlah besar volume air yang terakumulasi di pantai, khususnya di zone paparan dan zone pasang surut (swash) ke laut.
Arus balik tidak bergerak di permukaan karena pergerakannya terhalang hempasan ombak yang datang terus-menerus. Arus balik ini diperkirakan menjadi penyebab utama tewasnya korban yang sedang berenang di pantai. Karena selain memiliki daya seret kuat, arah gerakannya pun bersifat menyusur dasar laut menuju tempat yang lebih dalam.

Terjepit celah karang

Secara rekonstruktif diperkirakan, peristiwa terseretnya korban yang sedang berenang, diawali dengan hempasan dan gulungan ombak cukup kuat sehingga arus putar (turbulence current) pecahan ombak membuat korban terpental ke dasar laut. Hantaman ombak menyebabkan kepanikan sehingga koordinasi gerak tubuh menjadi kacau. Benturan kepala dengan benda keras pun dapat terjadi. Akibatnya, korban tak sadarkan diri. Pada saat bersamaan arus balik langsung menyeret korban melalui jaringan parit dasar laut. Dalam waktu relatif singkat ia akan kehilangan kesadaran karena terjadi perubahan tekanan air laut secara tiba-tiba. Korban dengan cepat kehilangan panas tubuh (hipotermia), dan akhirnya tewas.
Bila di lokasi pantai landai berpasir banyak terumbu karang yang telah mati atau batuan keras menjorok ke laut – seperti di Karanghawu, Cisolok – potensi jatuh korban jiwa akan bertambah, karena jaringan parit dasar laut dapat terbentuk di celah-celah karang. Pada beberapa kasus, korban terseret arus balik kemudian terjepit di antara celah-celah karang. Tubuh korban pun tidak muncul kembali ke permukaan. Ada beberapa hal penting yang dapat dilakukan. Untuk kepentingan pariwisata, legenda Nyi Loro Kidul tetap perlu dilestarikan, karena merupakan salah satu daya tarik budaya berbau mistik yang cukup disenangi wisatawan (domestik). Namun, perlu diusulkan penambahan petugas dan peralatan untuk penjaga pantai, khususnya di kawasan rawan kecelakaan. Pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pengusaha, Lembaga Swadaya Masyarakat, pihak keamanan, dan sebagainya.
Dalam jangka panjang, dapat dilakukan suatu studi rinci di beberapa kawasan untuk mengidentifikasi faktor-faktor alam penyebab kecelakaan pantai secara terpadu dan multidisiplin ilmu. Misalnya, melakukan pemetaan batimetri dasar laut sekitar pantai, lengkap dengan jaringan parit bawah lautnya. Informasi itu selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya wisatawan, melalui media komunikasi tertulis (leaflet) maupun media elektronik (radio, TV, Internet).
Tentu saja dengan harapan tak lagi ada kaum muda yang tewas ditelan Laut Selatan.

0 comments

Rabu, 26 Januari 2011

Fenomena Bono Kuala Kampar - Riau

Rabu, 26 Januari 2011
Apabila menaiki pompong atau kapal motor, kemudian berlabuh di salah satu pelabuhan Kuala Kampar (Panduk, Pulau Muda dll.) menjelang air pasang tiba (pasang besar) akan terdengarlah bunyi gemuruh, semakin dekat semakin jelas derunya. Tapi jangan menduga deru itu bunyi angin ribut, badai atau hujan tapi hal itu adalah deru air sungai Kampar yang berbentuk gelombang besar, bergunung memudiki sungai Kampar dengan kecepatan yang dahsyat.

Di musim pasang besar, tinggi gelombang tersebut bisa mencapai empat sampai enam meter, merentang dari seberang ke seberang memenuhi sungai. Memang, suatu panorama mengerikan namun juga mengasyikan, itulah yang disebut BONO. Penduduk sungai Kampar bagian hilir, atau orang-orang yang pernah melewati daerah ini pastilah pernah melihat Bono, karena Bono datang bersama air pasang, baik siang maupun malam, terutama pada musim bulan penuh dan antara tanggal 10 sampai dengan 20 bulan Melayu (Arab). 


Ketika pasang mati (bulan kecil) Bono bisa dikatan tidak ada, kalaupun ada hanya berupa riak kecil di tempat yang sangat dangkal. 

0 comments
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...